Hembusan angin menerpa wajahku, terlihat awan berarak mulai menutupi sang mentari yang coba tetap memandangi bumi dengan sinarnya . “Mei, aku tetap mencintaimu..menyayangimu…tapi mengapa engkau tetap meninggalkan aku?”. Kalimat itu memecah keheningan diantara kami berdua. Hanya suara angin yang kembali aku dengar..” Demi Tuhan…aku sangat mengharapkan kamu menjawab pertanyaanku ini Mei..” suaraku kembali bergema di keheningan sore itu..yah, sebuah keheningan yang selalu menghampiri setiap aku bertemu dengannya.
“kring..kring..kring”…telepon disudut kamarku kembali berdering..dengan mata yang masih tertutup, aku mencoba mengangkatnya. Telepon ini sudah menemaniku lebih dari 3 tahun..terkadang dibanting..atau di elus-elus atau bahkan dibiarkan berteriak-teriak sampai beberapa menit karena aku malas untuk mengangkatnya.
“hallo..siapa ini?” tanyaku dengan nada yang terkesan malas.
“eh Rie, jadi nggak nontonnya?..nanti aku kenali kamu dengan temenku..cewe”..cakep lho!” suara Andra terdengar sangat keras di telingaku.
Aku menjawab dengan mencoba membuka kedua mataku “ah kamu Ndra..ngomongnya pelan2 aja..sakit telingaku nih..koq nontonnya bawa tamu asing??”
“Bukan tamu asing, tapi calon pengganti Mei!!” suara Andra masih terdengar keras
“Udahlah Rie..kamu harus bisa melupakan Mei…dia itu masa lalu kamu..tinggalkan dia” Andra mencoba menasehatiku dengan menurunkan nada pembicaraannya.
Bayangan wajah Mei berputar di kepalaku..senyumnya yang menawan dan matanya yang mendatangkan keteduhan bagi setiap orang yang memandangnya. Andra sering sekali ikut jalan disaat aku sedang “kencan” dengan Mei..ia sudah menganggap aku, mei dan dia adalah teman akrab..terkadang aku protes ke Andra karena sering mengganggu acara kami berdua..tapi Andra orangnya sangat pintar bercanda sehingga rasanya tidak seru kalau dia menghilang.
“hallo..hallo…busyet dah!!..kemana pula pikiranmu sekarang!! Hei…bangun..bangun… monyong” suara di telepon segera menyergap lamunanku. “eh..eh..sorry..sorry…kamu ngomong apa tadi?? Aku mencoba konsentrasi dan mengingat kembali perkataan Andra.
“Arie temanku yang hobby ngelamun…aku tunggu kamu di tempat biasa kita nonton..pukul 19.00 teng..tidak terlambat dan bawa duit yang banyak…he…he..he…” kemudian terdengan nada telp yang terputus.
“dasar kutu kupret..anak gendeng..bocah sialan” umpatku sambil melihat jam dinding. 085299011666..angka2 itu aku tekan di keypad handphone samsungku..aku masih berharap Mei yang mengangkat telfon tersebut agar aku dapat mendengar suaranya…lama kudengar nada tunggu yang mendendangkan lagu artis indonesia sampai akhirnya telfon tersebut putus dengan sendirinya. Jarum jam sudah menunjukan pkl 18.30..berarti aku hanya memiliki 1800 detik lagi. Cepat aku berdiri..Kuraih handuk yang tergantung di jemuran belakang..lari dengan gaya sprinter dunia langsung masuk ke kamar mandi.
Suasana di mall hari ini cukup ramai..maklumlah, malam ini malam minggu..malam yang katanya panjang (1 hari=24 jam, 1 jam=60 menit, 1 menit=60 detik…hari senin sampai minggu=sama aja).
Orang-orang hilir mudik dengan pakaian dan penampilan yang berbeda satu sama lain. Ada yang sangat serasi antara warna baju dan celana, atasan biru begaris-garis vertikal dipadukan dengan celana hitam atau t-shirt putih bergambar pemain basket dengan celana jeans biru.Tapi ada juga yang sangat tidak enak dipandang, baju merah menyala dengan celana jeans berwarna merah juga atau ada yang dengan percaya diri memakai gaun yang terbuka tapi terdapat bekas guratan dari uang logam di punggung belakangnya (masuk angin ya mba?)
Aku menuju lantai empat menggunakan ekskalator yang posisinya berada di tengah2 mall..tiba dilantai dua, pandanganku tertuju pada sebuah cafe berwarna coklat..ya, dipojok cafe itu pertama kali pertemuanku dengan Mei. Pertemuan tanpa disengaja disaat secangkir capuccino panas mendarat di pangkuanku. Secangkir capuccino yang memperkenalkan aku dengan seorang yang sampai hari ini tetap kucintai.
“maaf..maaf..maaf…saya benar2 tidak sengaja mas” seorang wanita cepat2 menghampiriku, seper berapa detik setelah cairan berwarna coklat tua panas menghampiri kemeja kesayanganku..semula rasa panas capuccino itu belum terdeteksi oleh otakku karena terpana melihat wajah yang ayu dengan raut muka penuh penyesalan.
“Tadinya saya mau ngelempar capuccino ini ke pelayan yang menghantarnya karena berperilaku kurang ajar, masa dia berani pegang2 saya..awalnya sopan tapi lama kelamaan koq jadi kurang ajar” teriak dia sambil menunjuk seorang pelayan yang tertunduk malu.
Kuhampiri pelayan tadi kemudian beberapa kata kubisikan ditelingannya..segera dia meninggalkan ruang cafe dengan tetap tertunduk malu. Tinggallah saya dengan baju yang basah bercampur bingung, harus marah atau tetap tersenyum. Marah karena capuccino telah memberi warna tambahan di bajuku atau tersenyum melihat kecantikan paras wanita tadi.
“Saya Meita..” katanya sambil menjulurkan tangan mencoba untuk membuka pembicaraan “kamu siapa?” kalimatnya bersambung dengan menatap mataku dalam-dalam. Waktu seakan berhenti berputar dan suara yang kudengar bagaikan nyanyian merdu mengalun di telingaku.
“Hei! Telinga kamu masih normal kan?, koq bengong aja neh….” kalimat itu membangunkan aku. Aku pandangi wajah yang membuat bergetar hatiku “ oh…eh…emh” hanya tiga kata itu yang bisa keluar dari mulutku. “wah..nama yang unik, ohehemh ya?” katanya sambil menurunkan tangan yang tidak diambut olehku.
Saat itu aku merasa seperti orang bodoh saja di depan Meita. Tanganku menggapai tangan Meita yang berlahan turun dan menjabatnya “ Arie…, maaf tadi saya terdiam karena lagi menikmati capuccino yang ada di bajuku, ternyata selain diminum..capuccino juga enak buat mandi” aku mencoba mengalihkan pembicaraan agar tidak terlihat mengagumi mahkluk tuhan yang ada didepanku.
Bersambung….